Monday, June 26, 2023

How was your day, Wa?

 

“Besok pulang sekolah main, yuk!” ucap seorang anak berseragam putih merah.

“Kumpul di rumah lutfi dulu, ya, ganti baju di sana aja!” ucap seorang lagi.

“Tapi aku pengen makan nasi goreng di sebelah SD, dulu”

Yawes, kamu beli dulu”

            Aku kangen banget sama masa-masa itu. Mungkin masa yang paling indah dalam sejarah hidup ini.

Pulang sekolah, ngga dijemput bapak, terus naik angkot.

Pulang sekolah, pulangnya akhiran, terus ngecengin cowo dulu.

Atau ga pulang sekolah terus main di rumah lutfi. Atau ke rumah Ais yang adem tapi agak serem.

Nggak banyak kenangan yang aku punya di kota ini. Satu-satunya kenangan yang paling indah dan masih bisa diingat dengan jelas kayanya waktu masa-masa SD. Ada sedihnya, ada senengnya juga. Merantau buat aku lebih bisa manage diri dan keuangan lebih terdepan daripada teman-teman yang lain tapi di lain sisi aku selalu ngerasa kota ini bukan rumahku. Once I got home, once aku akan merasakan kesepian yang berkepanjangan.

Tapi aku akan membicarakan kenangan indahku bersama teman-temanku back then.

Naik sepeda ke sekolah, merasa menjadi gerombolan paling keren pas masuk pager terus salim sama bapak ibu guru. Pulsek main di jalan irawan deket rumah aku, nongkrong di bawah pohon, duduk-duduk di kursi yang terbuat dari batang pohon. AAA sangat seru.

Bahkan aku pernah, mau ke Warak lewat jalan tembusan menelusuri hutan udah kayak Sherina, mungkin kalo dulu punya handphone canggih seperti sekarang, akan bisa aku ulang momen-momen tersebut lewat video. Tapi mungkin juga beberapa momen Cuma perlu ada di memori aja.

Aku juga pernah jalan pagi, terus bersihin makam di perumahan atas.. Sangat random and ngapain tapi emang begitulah anak kecil bermain. Ternyata jadi dewasa nggak enak, ya, Wa! Tapi we have trough it…

Aku inget banget dulu kita sering main di rumah Alya di ah lupa namanya. Terus ngerayain ultah dia di lapangan deket rumahnya. Dimasakin eyangnya.. aaaa so cute. Nginep di rumah Kenisha, act like girlband Cherrybelle. SUMPAH tulisan ini nggak ada strukturnya, hanya menulis apa yang terlintas di otak saya.

Aku nggak tahu nanti abis lulus kuliah apakah aku bakal kembali ke kota ini atau milih untuk nggak sama sekali terikat lagi dengan kota ini. (I MEAN I DON’T BUILD MY CAREER IN THIS CITY, but ofc I have to go back because my parents)

That’s why kalo aku punya anak nanti akan aku suruh dia milih mau sekolah di mana, dia nggak akan aku biarkan merasakan kesepian dan feeling lost ini aaaak. But it was happened.. and yaaa.

HIKS. Tapi gue bakal sedih banget pas lulus, gabisa lagi kalo sedih apa kesepian chat KARINNA, ARIN, FARAH terus ke kosan merekaaaaa. NANTI GW PUNYA TEMEN GA YAAA?

HIKSSSS SRRTTTTT. Gue gabisa bgt lagi kalo hidup tanpa teman, at least I have one. Ya GPP GPNYA PACARRRR. Soalnya gw tau itu kayak mustahil bgt dan gue males untuk patah hati lagi….. huftttt.

DI DUNIA YANG FANA INI….. kita semua mencari kebahagiaan. Dan cinta dari orang-orang.

Tai lah. Orang gada yang mau mencintai gue yang selalu mencintai dengan hati yang tulus ini. Huft saya capek.

Labels:

Wednesday, June 14, 2023

How was your day?

Katanya, kalau ada kucing yang menghampiri kita, tandanya kita orang baik, tandanya kucing ingin meng-excess negative energy yang ada di kita. Dan katanya juga, kalau ada anak kecil yang suka nyamperin kita, berarti kita punya hati yang tulus dan orang baik juga, gitulah pokoknya katanya. Kemarin, waktu aku ke percetakan di Wilis, aku ketemu anak kecil cowok, mungkin umurnya tiga tahunan. Aku lagi duduk di kursi tunggu sambil nungguin jilid-annya jadi. Adik itu datang bersama ibu, ayah, dan adik kecil yang digendong ibunya. Adik ini tiba-tiba nyamperin aku, dia bawa kunci motor ayahnya dan posisinya aku juga lagi genggam kunci motorku. Dia ngajak aku main, main-main tukeran kunci motor. Terus dia ketawa. Ibu dan ayahnya ngebiarin aja, karena ya aku nggak bales asiknya dengan judes. Dia bilang dengan perkataannya yang masih belum sempurna, "mbaak" "mbaak" terus aku bilang "iyaa, mau duduk?" terus aku gendongin dia buat duduk karena lumayan tinggi. Gitu-gitu terus sampai akhirnya dia pergi, deh. 

Sesuatu sederhana yang buat aku seneng adalah bermain sama anak kecil, disukai sama anak kecil, emang kalo gede kitanya jadi pusat dunia si anak kecil. Engga kaya dulu kita pas kecil jadi pusat dunia-nya bude-bude.
Tadi juga waktu aku mau beli buah, aku lagi naik motor padahal posisi pake helm dan masker, terus ada anak kecil cewe senyum ke aku. Aku langsung semangat 45.
aaaa indahnya dunia ini. Aku harus banyak bersyukur. Tulisan ini sangat ngawur. Tapi apa ya, hal ini semata-mata untuk melupakan pikiran saya tentang revisi:( Agak stres tapi pasti terlewati.

Labels:

Sunday, June 11, 2023

Hari-hari ke sekian


 

I am trying to write in silence. Hari ini cukup melelahkan namun juga melegakan. Walaupun agak ada gabut-gabutnya dikit dan anxious karena satu dan lain hal yang nggak bisa diutarakan. Dimulai pagi, bangun agak siang karena emang lagi nggak solat subuh, aku memutuskan untuk yoga lewat video youtube. Beberapa hari ini kepengen banget ikut kelas yoga, gara-gara ngelihat temen aku di instagram ikut kelas yoga, tapi setelah aku cari tahu harga per-sesinya, think i am not yet can afford it rn. So, i decided to practice yoga through youtube channel. Karena aku juga lagi merasa pengen jalan keluar, karena barusan beli jaket baru, sih, jadi aku memutuskan buat jalan kaki keluar, sambil mau cari sarapan niatnya, sih. And today, i reached 7000 steps! It was a new experience for my daily walk. Walaupun sebenarnya emang capek banget sih. Tapi jeleknya, sampai kos-kosan aku malah nggak langsung mandi, dan bersih-bersih diri ataupun kamar. Aku malah sibuk scrolling social media sampai azan duhur. Hedeh. Merasa sia-sia keproduktifan pagiku hari ini. Tapi karena emang gabut banget, since i got unemployee again, aku akhirnya main ke kosan Farah dan makan nasi padang bersama. Yaa, 6/10 lah karena rasa kuahnya masih kerasa 'padang'. Not like naspad naspad yang beberapa kali aku makan alias naspad orang jawa. Tapi, belakangan, lagi pengen banget dan manifesting kehidupan beberapa bulan yang akan datang setelah lulus, dapet gaji sendiri, merasa cukup, bisa attend kelas yoga, bisa travelling ke sana kemari pakai duit sendiri, pengen coba ikut hiking. Aaaaaa, imagining the day after today (alias kuliah) is so much fun until you nggak tahu mau kerja apa. Tapi boleh, lah, ya, kita memikirkan dan berimajinasi luas tentang apa hidup yang pengen kita jalani di masa depan. Daripada, daripada nggak punya harapan dan mikirin cinta melulu. Mungkin beberapa hal emang nggak harus kita bawa lari. 

Sejauh ini, aku udah jarang banget nulis maupun journalling di buku biru, salah satu alasannya karena aku malas buat menulis (pegel) dan lain-lain hal yang nggak tahu kenapa aku berhenti menulis keseharianku. Padahal, ternyata menyenangkan juga! Aku sampai lupa kalau ada banyak hal yang mulai aku tinggalkan selepas kebiasaan-kebiasaan baru yang aku lakukan. Kira-kira nanti, aku bakal jadi penulis nggak, ya? Aku bakal kerja di penerbitan nggak, ya? Atau aku bakal bisa kerja di stasiun TV?

Aku nggak menyangka, sih, aku ada di titik ini sekarang. Kayak, waw time flies, and we shouldn't regret anything. Cinta-cinta yang habis belum masanya, pertemanan yang merenggang, kertas-kertas yang terbuang, buku-buku yang tidak selesai dibaca. Semua terjadi dan nggak selalu punya makna. Di semesta yang selalu mendukungku, dan hari-hariku yang ceria ini, walaupun kadang nangis dikit (sebenarnya aku tidak sepositif ini tapi aku mencoba). Beberapa salam yang nggak terbalas juga nantinya akan ada hal-hal yang datang sebagai pengganti yang ke sekian.

Kalau kamu paham apa maksudku, kamu hebat. Soalnya aku asal menulis saja. Dan posisi ini, hidup yang sedang aku jalani ini, peran yang sedang aku jalani, film yang masih saja terus berputar ini, tanpa tanya aku mau apa enggak, ya that's it. Aku menikmatinya. Apapun yang hadir, rasa sakit, kecewa, kebahagiaan, kehampaan, aku belajar menerimanya. Semoga fase ini berlangsung lama lol. Soalnya orang ini kadang mudah switch kepribadian><

Rencanaku ke depan apa, ya, nggak banyak rencana, sih, take the chance. And fake it until you make it. Aku sangat happy karena aku bisa menulis lagi sepanjang ini! Dan bukan tentang kesedihan lmao. Mungkin, blog ini akan menjadi diary keseharianku, kalau aku nggak males.

Labels:

Wednesday, October 27, 2021

update kehidupan.

Bingung mau ngapain, nggak papa, Bro. Hem, gini-gini doang, sebenernya. Mau kerja udah apply sana-sini nggak ada yang nerima, it’s ok, Nyet. Jalani aja hari-hari penuh kejutan dan sebel-sebel kecil. Have been a heart break but it’s okay, kadang seru juga galau-galau nggak jelas, ngarepin orang yang ngarepin orang lain, trus kayak saling tau-tauan lewat insta story, lucu. Padahal kalo di-chat juga bakal dibales, tapi enggak. Listening on lagu-lagu baru dari playlist friendlist spotify lucu juga, cocok dikit masukin playlist, biar edgyYYYY. Baca-baca di google tentang genre lagu, walau agak bodoh, tapi learning something new boleh juga, biar menjadi perempuan berwawasan luas, huek cuih. Lagi mikir belakangan, duh otak gue kok gini-gini aja ya isinya, nggak berkembang, nggak bisa discuss, pinter apa ya gue, ngerasa menjual banget apa, ya, karakter gue. Asli ini tulisan nggak tahu arahnya ke mana. Barusan gue makan, eh ngga barusan juga deng, makan nasi goreng yang dimasak di magicom pake bumbu racik, not too bad, soalnya gue mager, Lagian jadi orang boros banget, sih?!! Kaya lo? Aamiin, sih:’) Nunggu gajian dari kemendikbud nggak cair-cair heu, gue kan pengen beli hp HAHAHA. Abisan hape gue udah ngga bisa di-cas, trus kameranya semakin burem dari hari ke hari, saya kan ingin ngontenJ. Derita derita, tapi patut disyukuri. Kemarin-kemarin abisan nonton youtube menjadi manusia, trus ada di segmen yang lebih dekat, orang abis bangun tidur mensyukuri 10 hal random yang ada di sekeliling, gue coba. So far so good, yaeuu baru dua hari, Monyet! Is this pragmatic utterance? No it isn’t, edgy loeeee. Kayak yang bangun-bangun gue masih bisa ngerasa pegel, ya bersyukur masih bisa pegel, khan, aneh. Lagu-lagu sedih tapi yang tereak-tereak kea hardcore leh ugha, membuat galau tapi semangat. Orang yang sempurna itu nggak ada, Nyet! Kayak-kayak sempurna aja loeee. Duh, gue bawannya pengen makan mulu, dekhhhh, trus kaya muka gue masa makin hari makin asimetris jadi pengen operasi plastik, canda zizizi. Kita kudu less-seble sama anythings, disuruh bikin redaksional? Okein, kerjain. Disuruh chat-chat orang2? Okein, kerjain. KAtanya mau jadi 925. Mau maen badminton tapi kg punya kok brou.

Labels:

Friday, December 25, 2020

days.

Aku suka pagi hari, karena aku tau aku harus bangun lalu melakukan aktivitas. Entah itu cuma nonton, makan, mandi. 

Kemudian di pagi menuju siang, aku mulai entah-entah. Memikirkan mengapa hidupku berjalan sangat lamban dan bosan. Questioning, mengapa hidupku kayak gini? Aku mulai enggan beraktivitas. 

Aku juga suka malam hari, tandanya habis ini aku harus tidur. Nggak usah mikirin apapun. Tidur. Besok bangun untuk menemui pagi hari yang kusuka, melakukan aktivitas, mandi seperti membuatku lahir kembali haha.

Habis itu aku kepikiran lagi,

kenapa hidupku seperti ini? Lagi, bertemu malam, aku harus tidur, aku suka.

Labels:

Monday, December 14, 2020

(Mungkin) memaknai hal kecil.


Rutinitas gue tiap pagi abis mandi yang pasti nggak lupa skincare-an, semata-mata gue paham kulit gue butuh makan alias nutrisi dan harus disayang-sayang haha. Abis skincare-an nih, gue pasti selfie, awalnya cuma buat mau tau, perkembangan jerawat gue kayak gimana, nambah apa kurang, bekas jerawat gue makin memudar apa ngga, pori-pori gue bersih apa kotor, tapi lama-lama sekarang, gue suka banget merapal ke diri gue sendiri, bersyukur dengan apa yang gue miliki, somethin' like that bullshit "gila cantik banget sih". Bukan gue menyangkal kalau gue jelek, tapi gue emang ngerasa gue cantik hahaha lol. 

Bersyukur juga karena, Alhamdulillah gue masih bisa ngerasain cukup dan syukur walaupun kulit gue belom sebagus gimana-gimana, karena menurut sepenglihatan gue, ada orang yang udah cantik dari sananya, dia cantik menurut semua orang, tapi masih belum bisa punya rasa cukup dan syukur atas dirinya, enggak papa. Gue nggak blaming. Itu semua emang namanya proses. 

Gue juga sampai di titik inipun melewati banyak banget air mata yang... kalo ditampung di ember bisa ratusan ember. Gue juga melewati hari-hari buruk di mana gue nggak pengen ketemu siapa-siapa dan cuma pengen bersembunyi di balik selimut. Dan nggak ada yang tau, kalau suatu saat fase itupun bisa kembali lagi di hidup gue. 



Labels:

Sunday, December 13, 2020

Curhat Minggu Sore

Photo by Vled Bagacian from Pexels.



Dari pandemi ini aku banyak belajar, belajar tentang diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Aku merasa aku ini introvert, karena biasanya untuk nge-charge diri, aku prefer buat menghabiskan hari di kosan sendirian.

Tapi semakin ke sini, ternyata semua itu jadi fleksibel.

Pandemi ini buat aku seperti kehilangan banyak. Menyadari hal-hal banyak.

Ternyata, aku juga perlu untuk nge-charge diri ketemu orang lain, ketemu sekelompok orang yang aku kenal baik. Aku perlu. Meanwhile di kota inikota kelahiranku, aku nggak punya seseorang. Hal-hal yang menurutku sangat menyulitkan dan menyakitkan di masa pandemi ini adalah, di sini aku ngga punya siapa-siapa‒kecuali keluarga, dan kalo aku ke Malangpun temen-temen deketku juga nggak ada. Terus aku harus ke mana? Sama siapa?

Inner child aku bilang, aku adalah manusia yang sering merasa kesepian dan kuper.

Boleh bilang aku lebay, tapi aku rasa banyak orang-orang di luar sana yang merasakan hal yang sama. Akupribadi yang nggak suka telponan, lebih suka chat, nggak suka kelamaan video call, sangat-sangat tersiksa menjalani kepanitiaan atau organisasi online yang sering ngadain rapat. Bahkan aku sempet, phobia sama aplikasi Line, karena organisasi yang aku ikutin dan aku memiliki tanggung jawab di dalamnya lebih banyak menggunakan aplikasi Line daripada Whatsapp. Iya sampe segitunya, takut banget dapet notif Line atau buka Line. Mungkin menurut kalian aneh, tapi serius kejadian di aku.

Mungkin, yang tadinya aku pengen aktif lagi di organisasi, jadi nggak jadi, kalau semester depan masih online.

Walaupun kadang aku juga ngerasa itu menyenangkan, tapi aku lebih banyak ngerasa beban dan tersiksanya. Aku merasa secara mental aku nggak kuat untuk terus kayak gini, dan lebih baik aku mencegah hal yang sama terulang lagi, bukan?

Tapi jujur, aku sebenernya pengen ikutan lagi, tapi aku takut, takut malah beban dan self blaming.

Kayakkenapa aku selalu salah pilih jalan? Kenapa hidupku seperti nggak ada yang benar-benar aku?

Aku kangen ketemu orang-orang, aku kangen ngobrol sama orang-orang, aku kangen, bukan, aku butuh. Ternyata sebuah pertemuan precious banget ya, baru sadar gara-gara pandemi. Nggak sih, udah sadar daridulu, dari aku yang selalu sempetin kalau ada yang pengen ketemu sama aku. Tapi abis pandemi gini lebih kerasa precious-nya.

 

 

 

 

 

 

Labels:

Wednesday, September 30, 2020

Am I exist?

 

                                                                                                  



Dulu aku sering ngerasa nggak dianggep, transparan, kalo gada aku di circle sma-ku ya gapapa. Nggak ngaruh. Nggak punya power. Karena emang prinsipku less talk sihhh.

Aku kayak krisis identitas. Merasa harus exist di setiap kelompok yang aku ada di dalamnya. Padahal bukan itu tujuan seharusnya.

Tapi lama-lama aku sadar sih, kita nggak bisa buat semua orang untuk selalu butuh dan ingin ke kita.

Gapapa nggak in to semuanya, tapi yang penting ada satu, dua, tiga yang in ke kita. Yang cari kita pas dia butuh. Yang cari kita pas kita nggak ada.

Dan harus berani untuk tidak disukai. Dulu aku suka mikir, ah pasti gada yang nggak suka sama aku, aku udah berbuat baik ke semuanya, gak suka perpecahan, love peace, nggak suka nyebelin ke orang lain. Tapi kan, itu pandanganku terhadap diriku sendiri. Dalam pandangan orang lain bisa aja mereka anggap aku sok baik, sok cantik, sok kalem, indeed.

Itu dulu, waktu aku belum begitu mengenal diriku. Waktu aku belum bisa mem-filter perasaan apa yang harus aku dalami dan yang harus aku singkirkan. Aku pikir sekarang aku udah lumayan jago masalah ini haha.

Aku juga paling suka kalau diajak. Kayak bahkan cuma sekadar, "keluar yuk!" "beli jajan yuk di metro" "ngopi yuk!" dan ajakan-ajakan yang lain. Itu buat aku... Ngerasa ada, ngerasa exist di hidup kalian, kayak, oh this one guy get reach me out?. Kayak I mean aku bakal mikir, oh aku penting toh sampe diajak, oh aku dianggep, oh aku berharga toh buat dia? Terima kasih kepada orang-orang yang sering ngajakin aku. Jangan capek dan bosen ngajakin aku yang walaupun kadang kalo aku lagi males ketemu orang, aku alesan, hehe.

Percaya atau enggak, awal-awal aku nyaman sama temen kampusku, aku kadang ingin membuang segala memori sma-ku. Iya, literally semuanya. Kayak Clementine yang membuang segala memori tentang Joel Barish. Mau baik maupun buruk. Aku cuma merasa selalu sedih sama semua memori itu. Menyenangkan tapi nggak bisa balik lagi ke sana. Menyedihkan dan semakin mengecewakan. Kayak nggak ada gitu identitas baik yang ditinggalin. Bahkan, aku juga ingin memutus hubungan sama temen-temenku. Gila, ya? Emang, mungkin saat itu aku cuma pengen untuk terus berada di zona nyaman dan nggak merasakan semua memori itu lagi. Aku kayak takut sama memori, indah ataupun nggak indah. Kalau diajak ketemu temen sma aja aku rasanya ingin banget nolak, ya karena aku nggak ingin membuat memori baru bersama mereka.

Tapi, semoga sekarang nggak, dan seterusnya nggak. Aku ingin berdamai dengan memori. Karena sejauh apapun aku lari, tetep nggak akan bisa. Karena dia bukan mengikutiku, tapi ada di sini, di relung hati dan amigdalaku. Di dalam diriku.

 

Labels: ,

Tuesday, September 22, 2020

Isi Kepala (lagi).

Aku gatau, sekarang, saat ini, aku semakin jauh sama temen-temenku. Jauh gak tergapai. Gak connect. Mau ngobrolin apa juga excactly aku udah bosen. Apa lagi bosen aja sih ya. Tapi kok kek geng-geng yang lain masih seru aja ya. Masih ada keterkaitan. Sampe kemaren pas main among us, disuruh ajakin anak-anak, tapi aku bilang lagi berantem, padahal enggak. Cuma awkward aja wkwk.

Sebenernya aku tuh ga nyari yang gimana-gimana juga sih. Pada intinya komunikasi aja. Kalau diajak ngobrol nyambung, Nggak kaku-kaku amat kek kanebo, mau belajar tentang apa yang aku suka. Bisa jadi tempat bertukar pikiran. yang... kadang kalo sama temen-temen cewe aku tuh, Fira misalnya, takut, takut ganggu, sibuk gitu keliatannya. Alma.. apalagi alma sok sibuk balesnya lama wkwk.

Emang nyari manusia yang into banget sama kita tuh sesusah itu ya?

Tiba-tiba kepikiran pas dulu masih sesekolah sama Alma, ngomongin masalah nama Savira dan Safira tuh kalo manggil kerasa mana yang ngomongnya pake v atau f. Ya kerasa aja gitu. Walaupun kedengerannya sama. Random nggak sih, emang.

Kadang…. Pas aku lihat ke temen-temenku, dia abis bubar sama si Z, eh udah ada aja penggantinya

Kayak... Secepat itu kah? Apa orang-orang tuh prefer menerima aja orang yang dateng tercepat atau dateng pertama kali setelah patah, eh tercepat juga ya?

Karena aku... Gamau kayak gitu.

Aku cuma mau cari yang tertepat.

Gamau kejebak lagi di sebuah hubungan yang ternyata cuma cepat dan nggak tepat. [ma sape dodol wkwk]

Kadang... Akupun ngerasa I can live without boys.

Kalo pas sama temen-temen, main sesuka hati...

But in case, salah ga sih kalo aku tuh pengen diperhatiin, dalam theme love lifes.

Jujur emang ada beberapa yang dateng, tapi aku paham, mereka cuma mampir, cuma kayak, penasaran aja.

Asik nggak ya aku?

dan ternyata aku ngga asik orangnya:(.

Kalo ngga, ya ada yg dateng, tapi bahasannya gak cocok. Sebenernya tuh bisa ya dicocok-cocokin aja, kalau orangnya sama-sama mau usaha sih.

Kalo kata orang perbedaan itu wajar dan gapapa dalam sebuah hubungan,

Tapi aku prefer milih buat yang lebih banyak persamaannya.

Kalo ldr, beda jam tidur aja udah susah... [aku gapernah, cuma baca-baca di tweet haha]

Aku juga nggak pengen untuk chatting 24/7 7 days.

Bcs sometimes I need to heal. Aku kadang pengen jaga jarak sama orang2 di sekitar aku. Sengaja membuat jarak.

Ya karena, karena aja. Aku suka males dan menghindari untuk bergantung sama orang seharian penuh. karena aku harus tahu dan paham sama realita kalo, orang itu datang ya bisa pergi.

Tapi bukankan menyenangkan ketika kamu jadi perempuan favorit di hidup orang lain. [terinspirasi dari lagu di tiktok wkwk map]

Pengen ngerasain aja kok, sekaliiii ajaaa selama masih pra dewasa ini wkwkwk.

Tapi ternyata itu semua bukan masalah kamu pinter atau nggak, kamu good attitude atau average attitude, kamu cantik atau biasa aja...

Itu karena masalah, aku. aku dilahirkan jadi aku.

Aku yang membosankan, aku yang tidak menarik, aku yang nggak asik, aku yang baperan, aku yang aku yang yang lain... [anjr menarik kok aku, aslii ini aku pura-pura aja sok paling sedih, padahal aku slalu ngerasa aku menarik… tapi gada yg tertarik jadi maksudnya???]

Cuma karna, megapa aku dilahirkan sebagai aku.

Karena masalahnya kamu ada di diri salwa. That's it.

Mau seberubah apapun kamu,

Jadi percaya diri, jadi cantik, jadi pinter, jadi kaya, kalau kamu tetep masih di diri salwa, kayaknya sama aja....

Kayaknya bener deh, aku mending ganti nama aja, jadi Deandra atau Tata :))))

Bagusan yang mana? [ngacoooo]

Labels:

Wednesday, March 25, 2020

It still two days. (when quarantine day)

Hai, lo pernah nggak ngerasa, nggak suka sama suatu tempat, tepatnya suatu kota sih. Tapi, lo benci akan ketidak sukaan lo terhadap tempat itu. I love that town. But every I am going to that town, I feel so sad.
Sometimes I feel like, I hate when I am going to that town, I became overthinker, I think about many possibility can happen. Even when I am come back from it too. Gue mikirin kenangan gue disana, sama orang yang gue suka, gue gak suka, even gue benci, even tho Idk I hate or love. But, actually, I love that town. I've someone that I am too afraid too loose in that town. Thatsn't he mean too.
Mungkin, ya mungkin, karena gue gapunya rumah disana. Gue nggak tahu ketika kesana gue akan berteduh dimana. Yes literally the physical. Duh gue nggak tau gue ngomong apa sih.
I've been through so many things.
And I don't know, how this anxiety come again.
I never like to go home. I never like to watching tv with someone else in.
I need to go back.

Labels:

Sunday, January 26, 2020

2020

Hai. Kamu pernah tahu rasanya? Isi kepalamu banyak sekali namun tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Somehow, aku cuma bisa menuliskannya. Ya karena, ya karena public speakingku jelek banget poll. Pengen rasanya bisa bertukar isi kepala, mendebatkan hal-hal seru yang nggak ada ujungnya, membicarakan hal-hal konyol yang cuma kita yang paham. Yaelah, kok aku malah kayak nulis novel roman. Not expected sih, malem ini aku bisa mengatakan sebuah kalimat yang sebelumnya I never tell someone else. Dan ya, walaupun seseorang yang aku kasih tahu itu nggak paham betul maknanya. Tapi, lega nggak sih? Udah bisa bertukar isi kepala sama orang lain? Nggak, serius aku nggak minta dimengerti, dikasih solusi, dikasih wejangan. Aku cuma butuh didengerin. Karena, ya emang sesederhana itu. I feel better, then. Semalem aku bicara sama dua orang teman, dengan beberapa kalimat yang aku copy paste. And I see, I see how they give response. I know I am not alone. I know. But, yes still but, but why I always feel like that. Shit. cringe.

Labels:

Saturday, October 19, 2019

Belum tahu.

Ketika aku sedih, aku butuh cerita, ketika akan cerita, aku butuh seseorang yang tepat.
Tapi, ketika seseorang yang tepat itu nggak ada. Aku butuh makan, memakan sesuatu yang aku sukai, atau sesuatu yang jarang aku makan dalam kehidupan sehari-hari akan membuat perasaanku lebih baik.
Namun, ketika aku butuh makanan, maka aku harus mengeluarkan sejumlah uang.
Ketika sedih, nggak ada seseorang yang tepat, nggak ada uang.
Lengkap banget rasanya kesedihan itu.
Walaupun kadang, ketika ada seseorang yang tepat aku nggak perlu cerita, aku cuma butuh pundaknya, wajahnya nyata di depan wajahku, tangannya nyata mengelus puggungku, perilakunya senantiasa sabar menghadapi segala emosiku.
Kalau dulu, waktu kita masih bareng-bareng. Kalo aku sedih mereka selalu menjadi rumah.
Sekarang, di kota yang entah sudah dapat kusebut rumah atau belum ini, aku seperti tidak mempunyai siapa-siapa. Mungkin ada, beberapa yang kusebut teman. Dan aku bahagia memiliki mereka.
Namun, rumah tetaplah rumah. Rasanya untuk dipindahkan begitu sulit bukan?
Aku belum menemukan seseorang yang seperti aku. Aku belum dapat menemukan rumahku disini. Rasa-rasanya, perasaan ini pernah ada dulu.

Labels:

Thursday, October 10, 2019

Insecurity.

Belakangan ini aku sedang di titik terendah.
Merasa sendiri, merasa diasingkan, merasa semua mulai bosan dan pergi.
Merasa jelek, buruk rupa, tidak cantik.
Bahkan, biasanya yang aku suka GR kayak, "ih kayaknya dia perhatiin aku terus deh". 
( I think, some people often think like this yea). Aku mengganti dengan, ''nggak mungkin ada, ah mana mungkin, nggak panteslah, perasaan lo kali".
Bahkan lagi, aku tidak percaya, if there's someone crush on me.
Karena aku merasa se-tidak berharga itu. Se-tidak pantas itu untuk disukai, apalagi dicintai.
Rich me.
I want to spread positive things, but I am the one of negative things.

Labels:

Jangan Dibaca.

Have you ever thought, am I valuable in someone else's life?
Saya tahu pikiran saya ini bodoh, mungkin, saya akan terlihat berharga ketika dilihat dari sudut pandang orangtua saya.
Karena memang seharusnya peran setiap orangtua memang seperti itu. Seharusnya, saya katakan.
Karena tidak semua orangtua seperti itu juga,sih.
Sekarang ini, saya sedang kesal, otak saya sedang kebanyakan mikir.
Ada hal-hal yang membuat saya stress: ketika saya menjadi anak kos dan tidak punya uang sehingga tidak bisa makan, ketika saya tidak memiliki teman, ketika.. sebentar saya pikir dulu.
Dari SMA, saya selalu merasa, selalu merasa tidak begitu penting di kehidupan seseorang, bahkan dalam circle pertemanan saya. Seperti, ada atau tidak ada saya. No problem. They won't care.
Tetapi, saya selalu berusaha untuk yasudah sih, berusaha untuk selalu, it's OK, kan yang penting ada seorang dua orang yang sangat berteman dengan saya. Karena kalau dulu, circle saya itu anggotanya banyak.
Sudah lama saya nggak ngerasain perasaan seperti itu (red: diasingkan, dianak bawangkan). But, now. Saya merasakannya lagi, berteman diantara tiga kepala, dan yang ketiga itu saya. Paham kan rasanya? Apalagi ketika saya membutuhkan tempat berteduh, teman-teman saya yang dulu sekarang jauh semua. Kita sudah disibukkan dengan urusan masing-masing. So poor me, yang masih saja mengharap ketersediaan mereka selalu untuk saya. Karena mereka dulu, saya sebut sebagai rumah. Bahkan lebih rumah, daripada rumah tempat tinggal saya.
Bahkan, so poor me again. Sungguh, pikiran saya sekarang sedang melulu negatif. Saya bahkan, tidak suka ketika melihat teman saya bahagia. Karena bagi saya, ikmas itu pengganti rumah. Dan ketika mereka berkumpul, bersenang-senang menjadi satu. Oh tidak! Hati saya cemburu. Mengapa disini saya tidak bisa mendapatkan tempat pulang, tempat kembali, tempat melepas penat. Mengapa?
Ahh, maaf rumit sekali hidup saya. Saya sudah terbiasa hidup dengan kerumitan pikiran saya sendiri.
Seperti yang pernah saya tulis tempo hari,
Kamu pilih bergantung dengan orang lain, atau orang lain yang bergantung kepadamu?
Sebenaranya kita membutuhkan keduanya, karena kaeduanya merupakan hubungan timbal balik.
Ah sudahlahhh, mari membenahi diri sendiri. Sendiri. Saya harus menciptakan rumah itu sendiri:)

Labels:

Monday, July 29, 2019

Curhat. Dihapus kalo udah malu.

Gue kira selama ini gue udah ikhlas. Udah yaudah aja gitu. Tapi nyatanya hari ini, sore tadi, mendengar pengumuman lagi.
Lantas, di hati gue seperti ada suatu rasa yang nggak seharusnya ada. Biasa kita sebut didalam kehidupan sehari-hari, iri.
Di benak gue pun langsung muncul serentetan kalimat setan. Mengapa, kenapa, kok gue nggak gitu, kok gini, kok gue gitu.

Kemudian gue bertanya-tanya dengan diri gue sendiri. Oh Shit! Jadi selama ini kamu belum ikhlas toh? Jadi selama ini ego pikiranmu masih memenangkan semua itu?
Pernah nggak sih kalian, berperang sama ego kalian sendiri?

I think ikhlas akan jadi gampang buatku. Selama ini aku selalu saja bisa menerima semua takdir yang sudah diberi oleh-Nya (biasa disebut qanaah). Namun, sampai detik ini juga. Egoku masih sama. Inginku masih sama. Harapanku masih sama. Penyesalanku masih membekas.
Aku masih iri. Melihat manusia lain yang bisa berada di hal yang ia sukai, berada di tempat yang dekat dengan orang-orang yang aku sayang. Deep on my heart, I am afraid. Aku takut untuk tidak bisa menemukan manusia yang cocok dengan sifatku. Dengan segala ke-moodyanku. Dengan segala jokes anehku. I am very afraid.

Oke campur sari bahasanya, tapi gapapa deh.

Dari aku masih ingin belajar komunikasi dengan baik.

Labels:

Sunday, June 9, 2019

Nggak penting.

Sometimes, just with this blog I feel alive. Because I can say anything here. Without knowing what people's views are with what I write. Even though, sometimes I hope someone just likes or comments on my writing . But, sometimes also feel embarrassed. Kalo tulisanku sedang lebay. Hehe.
Tapi, sabodo teuing eta mah.
Yang penting aku senang kalo abis nulis. 
Sebenarnya ada manfaatnya nggak sih aku nge-blog gini buat orang lain. Or just for me wkwk.
Yaa semoga ajaa ada yang bisa mengambil pelajaran, atas apa yang sudah aku tulis disini.
Ketik sih ya, bukan tulis. Siapa tahu, kapan-kapan aku jadi blogger beneran.
I prefer to be a blogger sih, than youtuber. Lebih tepatnya travel blogger mungkin atau blogger influencer. Nggak se-serius itu aku mau jadi youtuber. Kayak yang orang lain lihat.
Biasa aja, sih.

Labels:

Saturday, May 11, 2019

Keresahan.

Mungkin bukan cuma aku yang capek. Semua, kalian capek.
Tapi kali ini aku bener-bener capek.
Bener-bener ngerasa hidupku nggak berharga.
Buat aku sendiri dan buat siapapun.
Padahal, kayaknya baru kemarin aku senang-senang.
Aku hidup disebuah rumah yang bukan kayak rumah.
Aku punya temen banyak tapi aku kayak nggak punya teman.
Aku benci merasa kayak gini.
Udah lama banget aku nggak merasa insecure kayak gini. Underestimate sama diriku sendiri sampai sebegininya.
Aku bahkan udah lupa, apa obat yang paling ampuh buat menghilangkan perasaanku yang kayak gini.
People think, maybe I can tell someone to care. Tapi, sampai sekarang aku belum menemukan manusia yang tepat. Aku cuma butuh manusia yang mau mendengarkan, tanpa sok menggurui.
Aku murni curhat, karena selain aku bingung mau cerita dimana, mungkin yang ngerasain kayak gini bukan aku aja. Mungkin kalian pernah merasakan juga dan mungkin udah menemukan obat.
Aku minta tolong sama kalian, kalo tau apa itu obatnya kasih tau aku. I very need it, actually.
Aku tahu, kita punya Tuhan. Dan Ia sebaik-baik tempat berkeluh dan kembali. Belakangan ini aku sering nggatau apa yang aku lakuin dan untuk apa aku lakuin itu.

Labels:

Saturday, May 12, 2018

Being Bored



I am tired of being bored. Yang lagi gue pengen sekarang yaitu, sendiri ngeliatin bintang, apa di sebuah tempat yang indah pemandangannya atau dipojokan cafe sama kertas-kertas, sketch,  koi  water color, pencil, spidol, coffee, dan laptop. (Laptop siapa etdah). Entah nanti gue akan cuma nggambar, corat-coret, ngeblog,nonton youtube atau bahkan diem aja nikmatin langit atau ngekhayalin hidup. Gue bosan dengan segala rutinitas gue, gue bosan menghafal pelajaran, yang gue lagi pengen banget sekarang gue bisa cuma bersama hal-hal yang gue sukai, like what i tell you above. Tapi terbatas, yash. Gue sekarang dalam keadaan ujian lisan di dalem penjara. Wth.
So What Should I Do Guys.

Nah kalo lagi bosen gini atau hati gue lagi dongkol apa kesel, suka iseng aja googling, barusan gue googling " what should i so when i'am bored" terus i found that link 

Coba buka aja, bisa sih mengantisipasi rasa bosan yang terlalu dalam ini. 


    Pict: pinterest


Labels: