Tuesday, January 21, 2025

Hello, I'm Back!

hi, it's 2025 dan aku sudah melewati banyak hal. ups and downs, keberhasilan dan kegagalan, rasa malu, menyesal, dan merasa menjadi seperti pengecut.

aku sekarang mahasiswi s2 sastra lho, aku dulu pasti nggak bakal nyangka kalo aku beneran jadi s2 dan beneran jadi tinggal di yogyakarta. habis lulus aku cuma berangan-angan, kalau aku ngerantau lagi ke jogja gimana, kalau aku kerja di jogja gimana, atau nanti aku sukses di jakarta, atau aku hidup kembali di surabaya.

nggak pernah menyangka akhirnya aku di titik ini, walau butuh waktu sekitar satu setengah tahun setelah lulus dan setahun setelah wisuda, mungkin ini saatnya aku merasa aku jadi apa-apa. mungkin ini saatnya aku menerima kalau, hidupku nggak seperti kebanyakan temanku, kalau, human design-ku untuk belajar dan memberi belajar.

banyak hal yang udah aku capai, termasuk bekerja di sebuah penerbitan indie di yogya, walaupun bukan menjadi tim redaksi atau editor. tapi seenggaknya, aku bisa bercerita kalau aku pernah kerja di penerbitan yang bukunya dibaca dan dipuji banyak pembaca.

mimpi-mimpiku banyak dan tinggi, pun juga masih banyak. kalau masih ada kesempatan, nggak, aku akan buat kesempatan-kesempatan itu, menjadi penulis, bekerja di jakarta, atau di bali, bekerja remote, hidup di surabaya, dan mungkin menua di suatu kota yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

aku akan terus menyiram mimpiku, selagi aku masih diberi daya untuk memiliki sumber-sumber airnya.

Labels:

Monday, May 13, 2024

Review Budi Pekerti abal-abal

Part yang paling emosional menurut aku adalah pas Bu Prani keluar dari sekolah terus dianterin murid-muridnya pulang ke rumah. Film ini nggak menyuguhkan apa yang penonton mau, (ending yang happy, penyelesaian konflik yang baik, keadilan bagi yang terdzolimi) GAK! Film ini menyuguhkan realita apa yang benar-benar terjadi di masyarakat sekarang. Apa dikit konten, Angga (Muklas) merepresentasikan gimana generasi sekarang udah disetir sama internet, netizen, popularitas, dia berusaha menghalalkan segala cara buat mendongkrak popularitasnya dan menjaga nama baiknya. Even sampai mengorbankan keluarga, dan segala caper jedot-jedotin pala. Juga apa yang disuguhkan di internet (motivasi, kebaikan, apalah) pas di dunia nyata juga itu motivator (Muklas) gak mencerminkan sifat baik dan motivasi yang dia usung. Jujur aku sangar-sangat ke-trigger pas Gora marah-marah mukul-mukul air (idk) tapi pada akhirnya diakhiri dengan penyelesaian epic pas Bu Prani dan Gora mencoba metode relaksasi yang dikontenin Muklas. Untung di sini Prilly (Tita) jadi anak yang waras, nggak keikut arus dunia maya kayak Muklas. Terus di mana keluarga Mbok Putu sing nesu-nesu padal yo Mbok-nya setuju buat dipublikasikan, bener kata Tita, “Emangnya Mbok (lupa namanya) gak boleh punya hak untuk milih apa yang dia mau”. Insight baru buat aku, di mana di film dibahas kalo gak semua viral-viral, putu viral, bakso viral, apa viral, menguntungkan pelanggan, selama ini aku mikirnya juga, Alhamdulillah, laris, banyak untung, despite of that OIYA JUGA YA ada sisi psikologis, pikiran maupun physical yang harus ditanggung sama mereka.  DAN HOW Bu Prani’s family treat Didit (suami dan bapak dari anak-anaknya) meskipun dia bipolar, keluarga ini tetep sayang sama Didit, nyari Didit kalau dia ilang, dengerin Didit kalau dia ngoceh, kayak THAT’S WHAT WE SHOULD DO kalau punya anggota keluarga yang kena mental illnes>< And at the end… ya begitulah ending yang bukan penonton harapkan namun ending yang benar-benar terjadi di tengah masyarakat. “Kalih viral-viral menika… Salah apa bener itu cuma perkara siapa yang paling banyak omong” Bagaimana bisa begitu mudahnya internet dan warganet menyetir hidup kita? Sebenarnya hidup ini milik siapa, sih?

Labels:

Monday, July 3, 2023

masa sekarang

Waktu juga nantinya akan membunuh perasaan ini. Lama-lama ia akan hilang dan pudar dari tempat persembunyiannya. Bahkan mungkin, perasaan yang ada sekarang, hanya kamuflase perasaan takut kesepian dan sendirian, bukan lagi perasaan cinta atau menyukai. Pun jikalau nanti waktu malah memupuk kembali perasaan ini, aku juga tidak bisa mencegahnya. Tapi nantinya, segala hal bukan tentang kita lagi. Seperti yang kemarin-kemarin, seperti yang sudah-sudah. Hal yang paling perlu aku rasakan sekarang cuma rasa menerima dan syukur. Bukan lagi bertanya, hidup aku kurangnya apa sampai aku masih merasakan kehampaan ini. Bukannya perasaan ini merupakan perasaan yang telah bersemayam di dalam diriku selama bertahun-tahun. Sekarang aku kembali ke mode aku yang menunggu, menunggu untuk ditemukan seseorang (lagi). Tapi mungkin saat ini keberuntungan akan cinta belum berpihak padaku. I can't force someone to stay. If they want go, I let them go. 

Tapi orang nggak bisa ujug-ujug datang dan menawarkan cinta, wa. All need process and i am not yet ready to have it. Aku nggak menilai semua laki-laki sama, tapi setelah aku merasa aku sudah berusaha penuh dan kemudian kecewa untuk yang kedua kalinya, aku sudah merasa cukup. Ternyata nggak ada yang peduli seberapa apa yang aku upayakan, setiap orang punya pilihan sendiri untuk tinggal atau meninggalkan. Dan kali ini mereka memilih meninggalkan, lagi. Kalau aku bisa memutar waktu, mungkin lebih baik aku sama sekali tidak pernah paham tentang apa itu cinta romantis dan fokus hidup dengan diriku sendiri. Karena ternyata berkali-kali aku mencintai dan jatuh cinta, aku selalu terlampau jatuh dan jauh, aku kurang bisa mengontrol perasaan ini, aku kurang bisa menghargai diriku sendiri. 

Tapi waktu terus berjalan, usiaku juga semakin bertambah, orang-orang silih datang berganti, perpisahan di depan mata. Ternyata memang di hidup ini kita harus berkawan dengan waktu dan perpisahan. Tapi aku selalu ingin lari, aku tidak pernah merasa bisa menghadapi perpisahan dengan siapapun, tapi nyatanya sekarang aku di sini. Melewati kecamuk perasaan yang pernah terjadi di masa lampau. Apa aku harus ke Jakarta, ya? Apa aku harus ke Tokyo? Untuk lari dari segala perasaan yang aku kesalkan ini. Tapi ternyata sejauh manapun aku lari, rasanya sama saja. Kalau bisa request, aku juga tidak pernah ingin sebegininya, tapi di balik faktor-faktor yang menyebabkan aku sebegininya, aku tahu persis.

Labels:

Saturday, November 26, 2022

Hai, Lagi?

If Bali was a town, I would choose Bali over anything. The tolerance. The hindunese. The Patience.

Udah lama banget nggak mencurahkan isi pikiranku ke dalam blog ini, entah kenapa, apa karena hidupku kebanyakan senangnya jadi tidak perlu bersedih-sedih menuliskan isi kepalaku, pun atau karena aku memang malas saja menulis. -aku kebanyakan menulis di atas kertas, sih, baru-baru ini.

Hidupku berjalan dengan baik, bahkan sangat baik. Meskipun sehari-hari minim orang yang mengajakku mengobrol lewat pesan singkat, pun orang-orang yang awalnya aku ajak berkirim pesan pada akhirnya aku yang tidak membalasnya lagi.

Dulu, aku menyebut diriku, "I can be alone, but i think i still want someone to check up on my things" tapi lama-lama aku terbiasa. Satu bulan, dua bulan, sampai entah bulan yang ke berapa. Aku terbiasa untuk hidup dalam kedamaianku sendiri.

I think I am living my best life. I still wish.


Labels:

Thursday, June 16, 2022

Awal

Aku pernah pengen jadi perempuan yang bisa menarik di mata semua orang, tahu segala hal, suka musik-musik yang keren, berusaha suka dan tahu tentang sepak bola, dan berbagai hal yang dikatakan keren oleh kebanyakan orang.

Kalau ditanya, apa musik atau band favoritmu? Aku akan terlampau sulit untuk menjawabnya, karena beberapa hal di hidupku tidak ada yang benar-benar kusukai terlebih malah yaa sudah itu-itu saja dan itu-itu lagi.

Dalam hal mendengarkan musik, aku tidak terlalu spesifik mendengarkan sebuah band atau sebuah lagu. Kadang aku membiarkan akun spotify ku yang nggak premium itu, iyaaaa gak premium, tapi kan kalau ndengerin lewat laptop bisa milih lagu hahaha.

Aku lebih suka menyetel discover weekly yang kadang beberapa lagupun baru aku dengar, kalau aku suka, aku masukkan ke playlist yang cocok dengan vibes lagunya

Aku mendengarkan lagu lewat nada dan alunan baru kemudian lewat lirik, apakah sebuah lagu itu sopan dan berterima di telingaku?

Memangnya setiap orang harus punya band favorit?

Memangnya bahan obrolan hanya seputar lagu dan musik saja? Bagaimana kalau kita membicarakan perombakan Kabinet Indonesia Maju yang baru saja dilakukan oleh Jokowi?

Aku juga tahu itu karena aku diminta untuk menulis berita, kalau tidak, mana kepikiran untuk membacanya.

Beberapa temanku merasa cocok dengan seseorang karena mereka memiliki playlist favorit yang sama, yaa preferensi, sih, tapi memang menemukan seseorang yang kemiripannya dengan kita 90% lebih menarik daripada seorang yang berbeda 180 derajat.

Tapi terlebih lagi, ada beberapa orang yang berusaha tahu apa yang seorang lain suka karena mereka cinta, iya, cinta, itu aku.

Ketika ketemu seseorang, kadang aku bingung cocok dan tidak cocok itu seperti apa. Beberapa kali temanku bilang, "aku tuh cocok banget sama dia ngobrolnya nyambung banget".

Apa terjadi sebuah keheningan dalam sebuah pertemuan percakapan tetap masih bisa dibilang cocok dan nyambung?

Yang aku tahu, waktu aku ketemu dia, pertama kali ketemu dia, aku tahu kalau kita akan lebih dari teman. Dan hal itupun terjadi. Dan semua pun berakhir juga seperti apa yang aku pikirkan. Hanya saja lebih cepat dan aku belum mempersiapkan diri. Tapi kalau dipikir lagi, saat jatuh cinta diri kita selalu berpikir siap untuk menerima jatuhnya, nyatanya gila.

Eh kok jadi ngomongin dia, ya, aku kan mau ngomongin aku. Aku menulis beberapa hal di sini selepas subuh, karena beberapa hal ingun menyeruak dari kepala dan dituliskan dalam sebuah tulisan yang mungkin tidak akan ada yang membaca dan peduli tapi ya aku hanya ingin menulis.

Belakangan hidup memang berjalan sangat cepat dari apa yang aku kira. Beberapa hal terpaksa kutinggalkan di belakang karena jika ku bawa bersamaku untuk maju, aku hanya akan dibuat kerepotan dalam perjalanan.

Apa aku manusia yang terlalu memaknai hidup, ya? Terlebih menjalaninya begitu saja seperti layaknya orang-orang kebanyakan? Tapi jika bisa untuk tidak mengulang kesalahan yang sama mengapa harus mengulang?

Aku maafkan semua orang yang pernah menyakitiku begitupun aku berharap dimaafkan oleh orang-orang yang kubuat kesal beberapa kali. Beberapa orang yang hampir aku tabrak saat di jalan raya. Bapak satpam yang kubuat bersusah payah mengambil kunci kamar kosku di selokan Superindo. Semoga hidup mereka selalu diberkahi Tuhan, sungguh.

Mungkin sebagian kestabilan yang hadir di hidupku berkat doa-doa orang di jalanan juga. Yang ku beli dagangannya, yang ku beri jeda untuk menyebrang jalan, yang ku doakan selamat sampai tujuan.

 

 


Labels:

Saturday, May 14, 2022

what else

my friends in my high school often told me if i am the weirdest one. i don’t wanna to deny it. they said i have my own thoughts that no one else has. but likely i just wanna be a orang biasa yang nggak sok beda dari orang lain, but every one is beda.

i am not the cool girl. often i am like a garing girl with my cringe jokes.

with my gajelas yang bisa bikin ketawa dan menghibur orang-orang.


isi kepala yang gajelas yang tertulis di beranda twitter.

but every one is unique and have their own energy and no one can replace it. i did.


kinda lately i have more confidence and idgaf for what people thinking about.

because suck. life is being hard for some people and being so nice to some people.

how can someone don't think if this life is so hard hhhhh. i got. i don’t think so for now.

later don’t know.


i just trying to romanticizing every little things in my life because no one gonna

romanticizing me. i wanna do something nice to every people i’ve meet because i want.

i wanna doing something to cheer up everyone arround me because i wanna do it.

because haven't no one can cheer you up and romaticize you when you down

is so abandoned.


i just trying to be nice people because i don't wanna they are feeling lonely.


many people come to my life and being nice tho. even some of them being left

or I left them first. we just need to do not too attach for some people because

we do not wanna be with them or we can't be with them. it’s fact.


at the end, being alone and can be grateful and romanticizing every seconds of our life

is the most loved. no one ever gonna do this for you.


i am starting not to blame anything happened because it happened.


Labels:

Friday, December 17, 2021

tulisan minggu kemaren

Kadang kalo seharian sibuk, keluar, ketemu orang banyak, banyak yang dikerjain, kita perlu waktu diem bentar, ngelamun, kontemplasi, seharian abis ngapain aja, ngasih waktu ke diri sendiri buat ngobrol sama diri sendiri. Capek, ya? Happy, nggak?. Atau sekadar ya mengkontemplasi hal-hal yang mustahil, yaaa biar ngobrol aja sama diri sendiri. Biar… Masih tahu apa yang pengen dicapai, biar masih ngerasa berpijak di bumi, biar waras. Berhubungan sama orang lain itu capek. Tapi kesepian lebih capek. Kadang hati ini kayak nggak berpijak di bumi, melayang-layang, kayak kuyan9. Inhale…. Exhale…Inhale…Exhale….Sadar bumi nggak sepenuh dan sesempit itu sampai di mana-mana harus ramai. Kamu masih bisa diem sendiri di keramaian dan nggak ada satu orangpun yang peduli. Kamu masih bisa pergi beli kopi kenangan, duduk sendiri sambil lihatin orang-orang pada bareng orang-orang. Sapu, keramaian yang ada di perasaan dan pikiran. Dunia nggak serame-rame itu, kok. Calm. Semua pasti bisa dikerjain dan diatasin, satu persatu, nggak papa, yang penting waras. Waras itu yang terpenting. Hidupmu nggak semenarik hidup orang lain? Emang. Tapi ya nggak harus jadi orang lain juga. Udah, deh. Ambil handuk, mandi di bawah shower emang paling healing, hilang hiling starling. Ngomong capek, nafas capek, jalan capek, lari capek, ya emang bener naik motor, tapi kadang pusing kalo pake helm. Semua ada enak dan nggak enaknya, nggak ada yang enak terus, kecuali susu kental manis yang merknya enak! Itu aja nggak seenak! Judulnya. Yah, kok ngomongin merek. Nanti dituduh mencemarkan nama baik produk lagi, dunia ini udah semakin gila emang. Nggak ada yang bisa dipercaya selain rasa percaya. 

Labels:

Friday, August 27, 2021

siap itu dibuat apa dari sananya?

Lagi ngerasa kayak dunia ini menolak aku. Oke, aku si hobi mendramatisir. Aku berdoa pas aku daftar sesuatu, job maupun sesuatu hal yang aku suka, kalo aku siap tolong terima, kalo aku emang belom siap dan gak siap, gak usah diterima, ga papa.

Tapi setelah beberapa penolakan aku jadi merasa papa, apakah aku selalu belum siap dan belum mampu? Apa aku yang merasa capable ini sebenernya gak capable-capable banget?

Sebenernya aku decide untuk apa dan di mana? (di FIB UB, yhaaaaa~ KKN fib bosokk hahaha emosi)

Apa aku emang cuma dikasih misi buat nulis blog sampe tua yang ngga jelas html dan seo-nya (karena aku mager benerin wkwk) ((si sok ngerti SEO)) Kata Pao aku disuruh nulis novel kali, tapi.... harusnya nggak ada kata tapi, sih di dunia ini, soalnya kita bakal ngasih tapi terus.

Apa kali ini Tuhan bilang aku harus babat habis semua penolakan-penolakan sebelum aku mencapai apa yang aku mau? Tapi apa malah di beberapa penolakan-penolakan ini membuat aku hilang arah dan ga tahu apa mauku?

Aku nngak tahu capable di mata mba-mba HRD itu yang kaya gimana. sad :(

Tapi mungkin bisa jadi aku emang gak siap, dengan segala kondisi pandemi dan tetek bengek masalah interpersonal aku dengan semua ini.

"Tapi kesiapan itu dibuat nggak, sih?"

Bisa jadi kalo aku keterima aku bakal stress, sering burn out, pengen lari dari dunia. Ok drama. Tapi selama ini kena pressure, nangis, bisa juga jalanin. Keren lo! (dih memuji diri sendiri~)

Sekarang aku lagi lumayan oke, sih, duniaku oke, dia kayak mau jalan barengan sama aku meskipun hari ini datang penolakan yang bikin aku questioning sama keberadaan dan misiku ada di dunia. Mati khusnul khotimah kata Isyana, mah. (yang tau-tau aja videonya)

Padahal aku cuma mau bermanfaat.

Padahal aku cuma mau menebar manfaat dan berkontribusi buat sekitar. (~gaya lo, gak si kalo kata Sella toxic productivity)

Sebenernya diem doang aku juga bermanfaat sih, buat teman-teman dan segala tetek bengek urusan percintaannya. Hmm.






Labels:

Tuesday, August 17, 2021

lifersation two.

“Ta, ngga mau di sini aja?”

“Di mana?”

“Di hidup gue.”

“Engga, gue ngga sanggup.”

“Kenapa?”

“I haven’t ready for commit, I fucked up with myself, my life, my sleep schedule, my purpose..”

“Gue ga minta?”

“Terus?”

“Yaaa.. kaya gini aja, gajelas.”

“Yang penting?”

“I am beside you, you’re beside me, when we need each other, we do. When I need dinner mate, you have to. When you need someone to accompany you to go to somewhere in the middle of nowhere , I will.”

“But, when we need to leave each other, we communicate.”

“Lo suka relation yang kaya gitu?

Sometimes kita harus accept, kalo hidup kadang emang butuhnya yang gini-gini aja biar ga stress.”

 

Labels:

Thursday, May 20, 2021

lifersation one.


Sore itu ia menangis lagi, ia berpikir mengapa hidup dapat berbuat sedemikian rupa kepadanya. Ia berpikir, mengapa ia diciptakan menjadi manusia yang selalu memusingkan bagaimana hidupnya berjalan terlebih menjalani apapun yang terjadi pada hidupnya.

“Sebetulnya, hidup itu perlu dipikirkan nggak, sih, Sa?”

Tanyanya pada lelaki berkaca mata yang sedang menjilat es krim di sampingnya.

“Ya perlu lah, Ta. Kalo nggak dipikirkan, mana mungkin hidup kita bisa sampai di titik sekarang dan semenyenangkan sekarang?”

“Ah, sekarang juga belum begitu menyenangkan, Sa.”

“Kalo dipusingkan?”

“Mungkin itu yang nggak perlu, Ta. Tapi, kan, setiap manusia punya cara menjalani hidup mereka masing-masing.”

“Mengapa semua selalu kembali lagi, ‘ya balik ke orangnya’” cibir Ta.

“Kenapa hidup ini nggak kayak matematika aja, yang ada rumus pastinya? Atau yang kaya makalah gitu yang ada sistematikanya?”

Sa hanya memandang Ta sejenak lalu menghela nafas, memilih untuk membiarkan Ta menyelesaikan perkataannya, semaunya. Sa tahu, Ta sebenarnya tidak butuh jawaban, ia hanya ingin berbicara dan didengarkan.

“Udah lama nggak ngobrol ya, Ta.”

Ta tersenyum penuh arti. Taman kota yang sesak oleh pengunjung dan aroma sehabis hujan mendadak lengang tanpa suara.

Labels:

Wednesday, February 24, 2021

Terkunci dalam Gereja Tua



Hai, kenalin, nama gue Salwa, tapi temen-temen gue lebih banyak yang manggil gue Wawa. Selama ini gue hidup dengan baik, bahkan bisa dibilang sangat baik. Kenapa? Karena gue selalu berusaha menjadi manusia yang baik kepada manusia lain, berusaha untuk menolong dan membantu ketika gue mampu, berusaha selalu peduli dan menaruh rasa empati terhadap apa yang terjadi, baik itu di sekitar gue maupun segala sesuatu hal yang berada di luar jangkauan gue. Selama ini, gue juga merasa bahwa orang-orang yang membenci gue dapat dihitung dengan jari. Ge-er gue, sih. Karena gue nggak suka cari musuh, gue nggak suka perselisihan, gue nggak suka benci-membenci, gue mencintai kedamaian. Dulu, gue selalu berusaha buat menyenangkan orang lain, membuat orang lain agar dapat selalu merasa nyaman di samping gue, ingin merangkul semua teman-teman gue. Ternyata, lambat-laun gue sadar, gue cuma bikin capek diri gue sendiri. Nggak jarang gue terjerumus ke dalam kedalaman empati gue sendiri, ketika ada sesuatu hal buruk yang menimpa teman gue dan gue udah berusaha membantu, gue terbelenggu dengan pikiran gue sendiri, apa itu cukup? Apakah gue nggak bisa melakukan hal lain yang lebih dapat memberi impact untuk dia kedepannya? Ketika melihat teman gue yang lain tidak se-empati itu (kelihatannya), gue merasa muak, ingin marah, kenapa dia seperti itu, kenapa dia tidak dapat menunjukkan empatinya sedikitpun? Padahal nggak ada yang tahu, kalau dia diam-diam udah membantu, padahal juga perihal empati-nya bukan urusan gue.

Ya, people named it Highly Sensitive Person?

Lalu, suatu hari gue bertanya pada diri gue sendiri, gue happy nggak, sih, kayak gini? Berusaha membuat semua orang biar nyaman cerita sama gue, berusaha buat menjadikan semua orang sebagai teman. Lalu, suatu hari gue terbangun dan sadar. Kalau nggak semua orang harus suka sama gue, nggak semua orang harus nyaman temenan sama gue, nggak semua orang yang gue inginkan temanan sama gue bisa dan mau temanan sama gue. Pasti ada yang diem-diem ngomongin gue, ada yang diem-diem sebenernya dia benci sama gue, tapi baik di depan. Iya, kayak gue, gue pasti ada sebel sama orang, nggak suka sama orang, benci sama orang (walaupun gue nggak suka membenci kadang perasaan ini nggak bisa dikontrol). Yang mana gue juga adalah seseorang, semua itu dapat terjadi juga pada gue. Gue mulai menjadi egois, mementingkan kebahagiaan dan kenyamanan gue di samping kebahagiaan orang lain, gue mulai nggak bersusah payah untuk me-nyaman-kan orang lain ketika curhat sama gue, gue mulai membangun boundaries ke diri gue sendiri, gue mulai nggak peduli sama orang yang nggak peduli sama gue, gue mulai memperkecil lingkaran pertemanan gue. Gue mulai belajar dan memahami sebenernya arah hidup gue mau gue bawa ke mana, sebenernya prinsip-prinsip di hidup gue itu kayak apa. Gue mulai belajar.

Selama ini gue hidup dari apa yang gue nantikan, selama ini gue menjalani hidup dengan menanti apa yang gue impikan. Waktu SMA gue belajar untuk menantikan duduk di bangku kuliah, travelling sana-sini, mendapat pacar. Waktu kuliah gue menantikan, hari ini gue bakal ketemu siapa, nanti siang mau makan apa, besok mau pake pakaian apa, weekend mau pergi ke mana. Semua itu yang membuat gue tetap merasa hidup dan merasa memiliki harapan, gue suka bertambah tua, yang mana waktu gue menuju apa yang gue inginkan semakin didekatkan. Tapi berkat pandemi ini gue merasa hancur-sehancur-hancurnya, semua seperti dipaksa berjalan mundur atau diam di tempat. Seperti yang seharusnya, usia 20 gue udah pergi ke Malang, Surabaya, Bali, Banyuwangi. Tapi gue terpaksa diam di tempat, karena keadaan nggak memihak. Atau, juga seperti yang seharusnya di usia 20 gue udah bisa nulis buku, nerbitin buku, dapet ilmu sana-sini karena sering diskusi di kampus, semua seperti dipaksa mundur, di usia 20 gue diberi ruang untuk kembali berperang pada diri sendiri.

Terlebih lagi nggak ada yang tahu, satu tahun, dua tahun, atau tiga tahun.

Gue agak sedikit marah sama Tuhan waktu itu, tapi gue lebih banyak marah ke diri sendiri. Karena gue lagi-lagi hingga sekarang belum dapat berkawan dengan keadaan. Gue masih belum bisa mengendalikan diri dan emosi gue. Gue menulis ini, karena saat ini gue lagi merasa nggak seperti hidup. Nggak ada hasrat. Hasrat mencintai, hasrat belanja, hasrat pamer, hasrat jajan, hasrat pergi ke suatu tempat. Karena biasanya gue selalu hidup berorientasi dengan hasrat‒hanya merasa ini seperti bukan gue.

Kecuali hasrat ingin dicintai, sih, nggak pernah hilang L #sadgurl

Seperti terjebak dalam gereja tua yang terkunci dari dalam.

Nggak tahu mau menantikan apa karena nggak pergi ke mana mana, nggak bertemu siapa-siapa, nggak melihat orang-orang saling berlomba-lomba. Salah gue sih ya, karena menjalani hidup dengan menantikan sesuatu di masa depan. Saat waktu tetap berjalan tapi terasa berhenti, kalang-kabut, deh. Bentar deh, gue mau nyari konsep hidup yang baru dulu. Atau, harusnya gue punya konsep serep kali ya. Oke! Gue akan mencoba mencari cara untuk keluar dari gereja tua tanpa merusakkan pintunya.

 

Labels:

Monday, December 14, 2020

Fase



Sebenernya emang semua itu fase, kok.

Kayak, chat kalau ada butuhnya doang. Kalau perlu aja. Yaa bagus masih ada yang butuhin, daripada nggak sama sekali, kan.

Tandanya disaat mereka‒temen-temenku, pada kesulitan, di kepalanya langsung keinget, "Oiya wawa pasti tau, wawa pasti bisa jawab ini, wawa pasti paham gimana caranya".

Walaupun,

kadang aku sebel dan kesel, misalnya lagi pengen chatting seharian sama si A, tapi dia malah gabur-in chat-ku. Padahal, kadang aku juga nggak sadar, bahkan sengaja gaburin chat mereka, yaa kadang karena lagi nggak pengen aja, tapi kadang juga karena emang sibuk dan banyak hal lebih penting, sih.

It's OK! Aku mulai memahami, sih.

Yang pasti, semoga mereka sehat-sehat dan bahagia sedikit sedihnya. 

Kalau mau nanya, minta tolong, jangan malu-malu gara-gara udah lama nggak bertergur sapa. Walaupun kadang aku juga greget kalau ada yang minta tolong hal-hal yang sebenernya bisa dicari sendiri di Google:).

Tapi, setelah aku tahu ternyata googling-pun juga butuh skill, oke aku paham.

Aku baca di sini kemarin.

https://twitter.com/nmonarizqa/status/1332953179491770369?s=19

Labels:

Wednesday, September 30, 2020

Am I exist?

 

                                                                                                  



Dulu aku sering ngerasa nggak dianggep, transparan, kalo gada aku di circle sma-ku ya gapapa. Nggak ngaruh. Nggak punya power. Karena emang prinsipku less talk sihhh.

Aku kayak krisis identitas. Merasa harus exist di setiap kelompok yang aku ada di dalamnya. Padahal bukan itu tujuan seharusnya.

Tapi lama-lama aku sadar sih, kita nggak bisa buat semua orang untuk selalu butuh dan ingin ke kita.

Gapapa nggak in to semuanya, tapi yang penting ada satu, dua, tiga yang in ke kita. Yang cari kita pas dia butuh. Yang cari kita pas kita nggak ada.

Dan harus berani untuk tidak disukai. Dulu aku suka mikir, ah pasti gada yang nggak suka sama aku, aku udah berbuat baik ke semuanya, gak suka perpecahan, love peace, nggak suka nyebelin ke orang lain. Tapi kan, itu pandanganku terhadap diriku sendiri. Dalam pandangan orang lain bisa aja mereka anggap aku sok baik, sok cantik, sok kalem, indeed.

Itu dulu, waktu aku belum begitu mengenal diriku. Waktu aku belum bisa mem-filter perasaan apa yang harus aku dalami dan yang harus aku singkirkan. Aku pikir sekarang aku udah lumayan jago masalah ini haha.

Aku juga paling suka kalau diajak. Kayak bahkan cuma sekadar, "keluar yuk!" "beli jajan yuk di metro" "ngopi yuk!" dan ajakan-ajakan yang lain. Itu buat aku... Ngerasa ada, ngerasa exist di hidup kalian, kayak, oh this one guy get reach me out?. Kayak I mean aku bakal mikir, oh aku penting toh sampe diajak, oh aku dianggep, oh aku berharga toh buat dia? Terima kasih kepada orang-orang yang sering ngajakin aku. Jangan capek dan bosen ngajakin aku yang walaupun kadang kalo aku lagi males ketemu orang, aku alesan, hehe.

Percaya atau enggak, awal-awal aku nyaman sama temen kampusku, aku kadang ingin membuang segala memori sma-ku. Iya, literally semuanya. Kayak Clementine yang membuang segala memori tentang Joel Barish. Mau baik maupun buruk. Aku cuma merasa selalu sedih sama semua memori itu. Menyenangkan tapi nggak bisa balik lagi ke sana. Menyedihkan dan semakin mengecewakan. Kayak nggak ada gitu identitas baik yang ditinggalin. Bahkan, aku juga ingin memutus hubungan sama temen-temenku. Gila, ya? Emang, mungkin saat itu aku cuma pengen untuk terus berada di zona nyaman dan nggak merasakan semua memori itu lagi. Aku kayak takut sama memori, indah ataupun nggak indah. Kalau diajak ketemu temen sma aja aku rasanya ingin banget nolak, ya karena aku nggak ingin membuat memori baru bersama mereka.

Tapi, semoga sekarang nggak, dan seterusnya nggak. Aku ingin berdamai dengan memori. Karena sejauh apapun aku lari, tetep nggak akan bisa. Karena dia bukan mengikutiku, tapi ada di sini, di relung hati dan amigdalaku. Di dalam diriku.

 

Labels: ,

Sunday, August 30, 2020

Isi kepala.

Perasaan tetaplah perasaan, seberapa dalam kau sangkal, ia tetap akan muncul ke permukaan. Hari ini bisa jadi aku sangat menginginkanmu, boleh jadi esok aku sangat ingin mengabaikanmu. 

Kadang, ia sandarkan kesepian pada yang ada. Padahal, nyatanya esoknya sama sekali tanpanya juga nyata.

Kadang ia luapkan amarah dansenang secara bersamaan kepada yang ada. Besoknya ia lupa bahwa ada yang ada. 

Happy itu ketika kamu tahu kalo kesedihan berasal dari ekspetasi yang nggak kesampaian. Lalu semenjak itu kamu mulai dapat mengurangi ekspetasi pada beberapa hal, yang kamu pikir kalau diterusin cuma bikin sedih, bikin kecewe.

Ngayal emang enak, kadang bisa bikin senyum-senyum sendiri.

Aku mulai nggak berekspetasi berlebihan, pas aku mulai mikir kesana, abis itu aku ngomong ke diri sendiri. Nggak bakal kejadian, itu cuma ekspetasimu.

Aku udah praktekin, ya dan hasilnya tentu berhasil. Kecewaku dan sedihku tidak sedalam biasanya.

Aku nggak tahu, kenapa aku sering takut sama memori? Memori baik maupun buruk. Di kota-kota tertentu. 

Kamu tahu, rasanya pengen lari, lari dari semua perasaan aneh ini, tapi kamu juga tahu, sama aja, dia itu ada di dalam dirimu, pasti kekejar dan ngikutin terus.

Kamu tahu, pengen berdamai tapi nggak tahu gimana caranya?

Sekarang aku lagi aman-amannya, berlindung di sebuah bangunan yang orang sebuah.



Labels:

Tuesday, April 28, 2020

Paling dan Selalu.

Siapa sih yang nggak mau jadi paling dan selalu di kehidupan seseorang? paling dicari, paling mengerti, paling tahu, selalu dibutuhkan,  selalu dijadikan tempat pulang. I think most of people ever thought to feeling like this, yeah? Paling tidak sekali dalam hidupnya. Sekarang atau nanti. Tetapi kadang seseorang suka lupa, buat salingsaling menjaga, saling mengerti, saling menjadikan rumah. Kadang, kita terlalu sibuk buat menjadi orang yang paling dan selalu untuk orang lain. Tetapi malah nggak ada waktu dan tempat untuk diri sendiri. Untuk kehidupan kita sendiri. Kadang pula, kita terlalu fokus bangga akan diri kita yang merasa paling dan selalu buat orang lain, padahal itu cuma menurut kita, menurut dia enggak. Kita emang sering, bahkan terlalu sering, hidup dalam garis imajiner kita sendiri. Membiarkan apa-apa itu hadir, bersemayam, menetap, menjamur, menimbun penyakit. Dan kita nikmati luka itu. Diam-diam mencintai, diam-diam merindukan, diam-diam mengharap hadirnya, diam-diam menyakiti diri sendiri. Katanya, “Feeling is healing” dengan berarti yaudah rasain aja rasanya, kan perasaan ini sebuah penyembuhan, toh perasaan ini buat aku nyaman. But, I’d rather think that isn’t so true.  Bagaimana bisa kita sebut “Feeling is healing” bahkan ketika merasakannya kita malah semakin ingat, semakin sedih, semakin hilang, semakin banyak menangisnya. Apa itu proses penyembuhannya? Jika iya, mengapa kita bukannya semakin menerima. Namun, malah semakin luka.

Kadang, iya kadang, karena nggak selalu. Kita nggak perlu merasakannya untuk mendapat penyembuhan.

Labels:

Wednesday, February 26, 2020

Ngoceh Pagi-Pagi.

Gue punya analogi baru tentang hidup. Nggak tahu sih, apa relate sama kalian atau nggak. Jadi gini analoginya,

'' If you do not feel precious today. Maybe, bukan lo yang nggak berharga. Tapi lo cuma belum menemukan tempat yang tepat agar lo bisa dihargai."

Setuju nggak? Karena sometimes, lo tuh ngerasa nggak berharga ya karena ternyata manusia-manusia disekeliling lo, emang faktanya nggak cocok sama lo, emang faktanya peran lo tuh nggak ada di sana, Karena lo berada di sebuah lingkungan yang nggak tepat. Tempat lo seharusnya nggak di sana.
Tapi, bukan berarti lo harus meninggalkan apa yang sudah lo jalanin sekarang. Lo hanya perlu meng-explore hal-hal baru agar bisa menemukan tempat yang cocok sama diri lo.

Yang di tempat itu tuh, lo bisa berkembang, lo bisa jadi diri lo tanpa lo takut, lo bisa senang tanpa harus banyak tenaga buat berpura-pura. Di mana lo punya peran disana.

Mungkin, bagi sebagian manusia, mereka nggak mencari hal ini. Atau bahkan, mereka ingin mencari tapi lupa. Gue hidup ngapain, sih? Kok gini amat? Compare terus deh gue bisanya. Mereka cuma sibuk comparing, complaining, tapi nggak melakukan atau mencari suatu hal yang bisa buat dia nggak gitu-gitu terus.

"Ah, namanya juga manusia"
Kayaknya kita terlalu memanusiakan manusia. Dalam konteks yang, apa ya. Bukan yang positif. Lebih ke arah yang.. Kalo bahasa yang lagi nge-trend sekarang nih, toxic.
Kita tuh suka mewajarkan sebuah hal yang 96% dari 100% manusia melakukannya. Padahal, hal itu tuh belom tentu baik, belom tentu bener, tapi yaudah ngikut aja.
Ah namanya juga manusia. Nah loh, balik lagi, kan! Pusing gue.
Padahal apa yang baik buat sebagian besar manusia, belum tentu baik juga buat diri kita.


Kalo kata Raditya Dika, "Selagi lo nggak bisa bermanfaat buat orang lain, ya jangan nyusahin orang lain". Kalo kata gue, masa lo mau, sih? Hidup nggak ada manfaatnya sama sekali buat orang lain, walaupun nggak nyusahin juga. Kan, siapa tau kan, ketika lo bermanfaat bagi orang lain, orang lain itu bisa nolong lo di kehidupan selanjutnya.

Ya, who knows?

Sorry deh, gue kok malah ngomongnya nggak terarah gini, hehe. Yaa, ngalir aja nih otak pagi-pagi.
Morning peeps! Hope your day amazing!

Labels:

Thursday, February 20, 2020

Recall.

Long time no nge-blog. Sebenernya dari kemarin udah pengen banget nulis disini lagi, tapi karena ada satu dan lain hal, cieelah berasa sibuk banget gue. Padahal yeu, gitu-gitu doang hidup gue. Kuliah pulang - kuliah pulang. Haha. Nggak sih, emang lagi banyak deadline kemarin. Tugas kuliah lah, apalagi coba yang deadline di hidup gue? Mati? Hmm itu deadline juga, sih. Kejar-kejaran ngga tahu ketemunya kapan. 

Jadi tuh, gue mau cerita. Kemaren kapan gitu gue sempet gabut banget dan pengen produktif, kan. Akhirnya gue iseng cari tuh di Youtube, cara menjadikan blog gratis biar ada Google AdSense-nya. Nah, iseng lah gue coba. Siapa tahu kan, iseng-iseng berhadiah. Udah tuh gue nunggu sehari apa nggak nyampe sehari ya. Eh nggak bisa, dong. Yahhh, patah hati deh gue. Hmm kayaknya, sih, karena ada beberapa syarat tertentu yang nggak blog gue miliki. Tapi apa itu gue juga ngga paha. Gue belom riset lagi, sihh. Besok-besok, deh gue coba cari lagi. 

Terus, sebenernya tuh gue ada blog satu lagi tapi pake website gratis yang satunya. Plan gue awalnya mau bikin travel blog gitu. Ceritanya gue tuh pengen bisa kayak Kadek Arini, tau nggak lo? Ini loh, gue kasih fotonya deh, karena gue baik.

Source:instagram.com/kadekarini
Tapi nih tapi, asli gue males banget, wkwk. Kayak, males banget nggak sih lo mulai lagi dari awal? Mengingat-ingat pengalaman travelling gue yang dulu-dulu. Yaa emang indah sih, nggak menyedihkan, tapi kan sedih juga karena nggak bisa terulang. Yeee, melow lo!. Bilang aja males, kan!.

Gue tuh sebenernya lagi pengen cari kerja, freelance aja gitu. Nulis artikel kek, berita kek, nulis di blog orang, atau apalah. Udah sering nge-bid tapi belom juga dapet client. Ya jelaslah, gue aja nge-bid asal nge-bid, ngga research dulu kek gimana manner yang baik hahaha. Dan setelah gue tahu gimana cara yang baik, gue malah takut nge-bid, takut salah kalimat wkwkwk.

Gue kemarin juga sempet, mau ikut lomba nulis puisi. Udah share posternya tuh di akun instagram gue, tapi, yah gitu deh, malah gue nggak ngirim puisinya. Ah, so stupid I am!.

Semoga besok-besok gue lebih cerdas dan berani deh untuk memulai sesuatu.





Labels:

Wednesday, June 26, 2019

Keluh kesah.


Diam bukan berarti sedang galau, melamun bukan berarti sedang banyak pikiran.

Kadang kita tiba-tiba aja diam melihat ke suatu arah sambil mikir. 
Memikirkan memaknai hidup, memikirkan dan merenungkan apa saja yang sedang ada dan telah pergi dalam hidup kita. Apakah selama ini yang kita lakukan sudah benar? Apakah selama ini kita sudah bahagia dengan segala yang ada di hidup kita? Apa segala pencapaian ini cukup bagi kita?

Kembali lagi kita bertanya pada diri sendiri, apa tujuan dari hidup ini sebenarnya? Mati kah? Bersenang-senang bersenda gurau lalu kembali ke Illahi? Apa seperti itu?
Sebentar-sebentar, ini saya nggak lagi ngomongin orang lain. Tapi saya lagi membicarakan diri saya sendiri. Apa saya bakal bahagia kalo punya uang banyak tapi tertekan sama pekerjaan saya nantinya?

Oke saya sebenernya hanya sedang bingung dengan hidup saya, akan dibawa kemana kedepannya. Agar hidup saya dapat lebih bermakna untuk saya begitupun orang-orang lain di sekitar saya. Pernah ngga merasa begitu?

Entahlah, belakangan ini sedang merasa banyak banget toxic di sekitarku.
Apa aku sendiri juga salah satu penyebabnya?

Labels:

Saturday, June 15, 2019

Sedikit tentang.

Hidup itu terlalu sederhana, kalau kamu habiskan cuma buat senang-senang aja.
Hidup itu terlalu indah, kalau kamu habiskan cuma buat menangisi kepahitan.
Di hidup ini, jika ada orang yang datang kepadamu maka akan ada pula orang yang pergi darimu.
Memang, kata yang paling nyaman untuk merasakan hidup ini cuma
''Kita Jalani Aja Dulu''.

Labels:

Tulisan 07:02

Pada suatu masa, kita yang udah terlalu capek buat membenahi gaya hidup biar kayak hidup orang lain akan capek dengan sendirinya.
Dan kembali pada sikap bodo amat.
Itu yang sedang aku rasain.
Aku membenahi gaya hidup dan terus begitu, emang karena aku suka, dan aku terobsesi. Bisa dibilang begitu.
Kemudian, aku merasa bahwa aku nggak akan bisa seperti mereka. Karena, ya sejatinya emang manusia diciptakan berbeda-beda. Keadaan, situasi, dan kondisinya.
Pada akhirnya, aku merasa lelah dan menyerah.
Dan berakhir menjadi diriku sendiri.
Aku nggak pernah merasa hidupku jadi seapa adanya kayak gini.


Labels: